VISI

Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta, mempunyai visi terwujudnya ketahanan nilai-nilai sejarah dan budaya lokal, dalam upaya memperkuat karakter dan jadidiri bangsa menuju kesejahteraan masyarakat.

MISI

  1. Meningkatkan pemahaman masyarakat dalam melestarikan nilai-nilai sejarah dan budaya.
  2. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan arti pentingnya pelestarian yang mencakup: pengkajian, perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan nilai-nilai sejarah, budaya, seni dan film, sehingga memiliki ketahanan terhadap pengaruh budaya global yang bersifat yang negatif.
  3. Meningkatkan penggalian, pengembangan, dan pelestarian karya budaya lokal.
  4. Meningkatkan kemampuan pengelolaan karya budaya lokal dalam rangka pelestarian, pengembangan, perlindungan maupun pemanfaatannya.

STRATEGI

  1. Peningkatan pembangunan karakter dan jatidiri bangsa, melalui: dialog interaktif, penayangan film dokumenter sejarah dan budaya.
  2. Pelestarian sejarah dan nilai tradisional, antara lain melalui penelitian bidang sejarah dan nilai tradisional, inventarisasi karya budaya, dialog budaya, festival, pergelaran, lomba, sosialisasi, lawatan budaya/sejarah, diskusi dan sarasehan.
  3. Perlindungan masyarakat adat melalui sarasehan dan dialog budaya spiritual.
  4. Pelaksanaan koordinasi dan sinkronisasi serta ker-jasama dengan instansi/lembaga terkait, melalui seminar, sarasehan, dialog, diskusi, apresiasi  kesejarahan, nilai budaya, seni dan film.
  5. Pengembangan sistem dan pengelolaan data dan informasi, melalui pembuatan database dan website tentang kesejarahan.

TUJUAN

  1. Meningkatkan pengelolaaan karya budaya lokal, terutama yang bersifat intangible.
  2. Meningkatkan pelayanan publik di bidang pelestarian nilai sejarah, budaya, seni dan film, melalui media cetak,  perpustakaan dan website.
  3. Meningkatkan pemahaman dan aspirasi masyarakat tentang nilai sejarah dan budaya lokal, melalui: sosialisasi, dialog, diskusi, sarasehan,  lawatan sejarah, jelajah budaya, apresiasi sejarah dan budaya, serta penyebaran informasi melalui media elektronik.
  4. Meningkatkan kerjasama dengan stakeholder di wilayah kerja Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta dalam rangka pengembangan dan pemanfaatan nilai sejarah, budaya, seni dan film.
  5. Meningkatkan kualitas kinerja Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta, baik tenaga fungsional maupun tenaga administrasi.

STRUKTUR ORGANISASI

Secara struktural Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta dipimpin oleh Kepala Balai, dan dibantu oleh Kepala Subbag Tata Usaha yang mengurusi masalah administrasi, keuangan, dokumentasi, perpustakaan dan rumah tangga. Selain 2 jabatan struktural tersebut, ada kelompok jabatan fungsional peneliti yang bertugas melakukan penelitian masalah kesejarahan dan nilai budaya.

Peneliti
Kelompok peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta terdiri atas peneliti bidang sejarah dan bidang budaya. Para peneliti bertugas melaksanakan penelitian sesuai dengan kepakarannya dalam bidang kesejarahan dan nilai budaya.

Perpustakaan
Menyimpan kurang lebih 18.500 buku yang terdiri atas 16.200 judul buku tentang: sejarah, budaya, sosial, kependudukan, dan bahasa. Selain itu mempunyai koleksi naskah kuna tulisan tangan (manuskrip) berhuruf Jawa dan Arab sebanyak 400 naskah. Perpustakaan Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta selain untuk mendukung kegiatan para peneliti di lingkungan Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta juga terbuka untuk para pengunjung dari luar (masyarakat umum).

Dokumentasi
Kegiatan dokumentasi meliputi pendokumentasian dalam bentuk audio-visual (film video) peristiwa sejarah dan budaya antara lain pendokumentasian: upacara adat (upacara tradisional), kesenian tradisional, permainan tradisional, tokoh sejarah dan tokoh budaya. Koleksi rekaman audio-visual dalam bentuk: VCD, DVD, kaset video, foto dan slide.

DALEM JAYADIPURAN

Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta menempati bangunan kuno dan bersejarah, dikenal dengan nama Dalem Jayadipuran yang terletak di Jalan Brigjen Katamso 139 Yogyakarta 55152. Dalem Jayadipuran merupakan sebuah bangunan rumah Jawa klasik yang berbentulk limasan. Pada mulanya rumah ini bernama Dalem Dipowinatan sesuai dengan nama pemiliknya KRT. Dipowinoto. Setelah KRT. Dipowinoto meninggal bangunan rumah ini oleh Sultan Hamengku Buwono VII kemudian dihadiahkan kepada menantunya yang bernama KRT. Jayadipura yang dikenal sebagai seniman serba bisa, sejak itu bangunan rumah ini dikenal dengan nama Dalem Jayadipuran. Setelah berulangkali terjadi pergantian kepemilikan dan penghuni, akhirnya sebagai pemilik terakhir bangunan beserta tanah Dalem Jayadipuran adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang difungsikan sebagai Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.

Pada masa pergerakan nasional Dalem Jayadipuran mempunyai peranan yang sangat penting antara lain: pada tanggal 29 Mei - 3 Juni 1919 sebagai tempat Kongres Jong Java I, 23 - 27 Mei 1923 sebagai tempat Kongres Jong Java II, dan pada tanggal 22 - 25 Desember 1928 sebagai tempat Kongres Perempuan Indonesia I. Oleh karena besarnya peranan yang dimiliki oleh Dalem Jayadipuran dalam kancah pergerakan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia, membuktikan bahwa bangunan ini merupakan bangunan bersejarah yang perlu dilestarikan.

ALAMAT

BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA YOGYAKARTA

Jalan Brigjen Katamso No. 139 (Dalem Jayadipuran)
Yogyakarta 55152


e-mail: senitra@bpnb-jogja.info
website: http://www.bpnb-jogja.info